BAB II LANDASAN TEORI – PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP FRAUD (Studi Empiris Pada Mahasiswa Akuntansi Universitas Hasanuddin)

Daftar Isi >> Abstrak >> Bab I Pendahuluan >> Bab II Landasan Teori >> Bab III Metoda Penelitian >> Bab IV Tinjauan Umum Objek Penelitian >> Bab V Pembahasan >> Bab VI Penutup >> Lampiran Kuisioner

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1       Persepsi

2.1.1    Defenisi Persepsi

Kehidupan individu sejak dilahirkan tidak lepas dari interaksi dengan lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya (Sunaryo, 2004: 93). Dalam interaksi ini, individu menerima rangsang atau stimulus dari luar dirinya.

Setiap hari kita dibombardir oleh ribuan stimuli (Simamora, 2002: 105). Sebenarnya, stimuli itu dapat dibedakan menjadi dua tipe. Tipe pertama adalah stimuli pisik (phisical stimuly) yang datang dari lingkungan sekitar. Tipe kedua adalah stimuli yang berasal dari dalam si individu itu sendiri dalam bentuk predisposisi, seperti harapan (expectation), motivasi (motivation), dan pembelajaran (learning) yang didasarkan pada pengalaman sebelumnya.

Kombinasi keduanya menghasilkan gambaran yang bersifat pribadi. Karena manusia merupakan entitas yang unik, dengan pengalaman, keinginan, kebutuhan, hasrat dan pengharapan yang unik, akibatnya persepsi juga unik.

Persepsi sebagai proses dimana individu mengatur dan mengintrepetasikan  kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka.(Robins, 2008: 175). Namun, apa yang diterima seseorang pada dasarnya bisa berbeda dari realitas objektif. Walaupun seharusnya tidak perlu ada, perbedaan tersebut sering timbul.

Lalu mengapa persepsi orang-orang berbeda untuk realitas yang sama? karena adanya perbedaan dalam perceptual selection, perceptual organization dan perceptual interpretation (Simamora, 2002: 105)

Persepsi merupakan proses akhir dari pengamatan yang diawali oleh proses penginderaan, yaitu proses diterimanya stimulus oleh alat indera, kemudian individu ada perhatian, lalu diteruskan ke otak dan baru kemudian individu menyadari tentang sesuatu yang dinamakan persepsi. Dengan persepsi individu menyadari dapat mengerti tentang keadaan lingkungan yang ada disekitarnya maupun tentang hal yang ada dalam diri individu yang bersangkutan (Sunaryo, 2004: 93). Sedangkan menurut  Walgito (2002: 271), persepsi merupakan proses psikologis dan hasil dari penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir.

Menurut Simamora (2002: 102) persepsi adalah “bagaimana kita melihat dunia sekitar kita”. Jika dimisalkan ada sebuah objek , toko matahari. Objek tersebut kita atau dalam bahasa canggihnya kita mendapat stimuli tentang objek tersebut. Berdasarkan stimuli itu, kita memberikan gambaran tentang toko matahari: “menurut saya, toko matahari itu…….. dan seterusnya.

Secara formal, persepsi dapat didefinisikan sebagai suatu proses, dengan mana seseorang menyeleksi, mengorganisasikan, dan menginterpretasi stimuli ke dalam suatu gambaran dunia yang berarti dan menyeluruh (Simamora, 2002: 102). Stimuli adalah setiap input yang dapat ditangkap oleh indera, seperti produk, kemasan, merek, iklan, harga, dan lain-lain. Stimuli tersebut diterima oleh panca indera, seperti mata, telinga, mulut,hidung dan kulit.

Dengan demikian persepsi merupakan suatu fungsi biologis (melalui organ-organ sensoris) yang memungkinkan individu menerima dan mengolah informasi dari lingkungan dan mengadakan perubahan-perubahan di lingkungannya.

Istilah persepsi adalah suatu proses aktivitas seseorang dalam memberikan kesan, penilaian, pendapat, merasakan dan menginterpretasikan sesuatu berdasarkan informasi yang ditampilkan dari sumber lain (yang dipersepsi). Melalui persepsi kita dapat mengenali dunia sekitar kita, yaitu seluruh dunia yang terdiri dari benda serta manusia dengan segala kejadian-kejadiannya. (Mateson, 2005: 116). Dengan persepsi kita dapat berinteraksi dengan dunia sekeliling kita, khususnya antar manusia. Dalam kehidupan sosial di kelas tidak lepas dari interaksi antara mahasiswa dengan mahasiswa, antara mahasiswa dengan dosen. Adanya interaksi antar komponen yang ada di dalam kelas menjadikan masing-masing komponen (mahasiswa dan dosen) akan saling memberikan tanggapan, penilaian dan persepsinya. Adanya persepsi ini adalah penting agar dapat menumbuhkan komunikasi aktif, sehingga dapat meningkatkan kapasitas belajar di kelas. Persepsi adalah suatu proses yang kompleks dimana kita menerima dan menyadap informasi dari lingkungan, persepsi juga merupakan proses psikologis sebagai hasil penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir. Persepsi seseorang akan mempengaruhi proses belajar (minat) dan mendorong mahasiswa untuk melaksanakan sesuatu (motivasi) belajar. Oleh karena itu, menurut Semiun (2006: 279), persepsi merupakan kesan yang pertama untuk mencapai suatu keberhasilan.

2.1.2        Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi bisa terletak dalam diri pembentuk persepsi, dalam diri objek atau target yang diartikan, atau dalam konteks situasi di mana persepsi tersebut dibuat.

Asumsi Yang Didasarkan Pada Pengalaman Masa Lalu dan Persepsi Persepsi yang dipengaruhi oleh asumsi – asumsi yang didasarkan pada pengalaman masa lalu dikemukakan oleh Robert (1993:19). Robert mengemukakan konsep yang disebut dengan pandangan transaksional (transactional view). Konsep ini pada dasarnya menjelaskan bahwa pengamat dan dunia sekitar merupakan partisipan aktif dalam tindakan persepsi. Gunarsa (2002: 104) berpendapat bahwa persepsi merupakan pengalaman tentang objek, peristiwa, hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Disamping faktor-faktor luar yang mempengaruhi persepsi, ada faktor-faktor internal personal umum misalnya faktor-faktor biologis, sosiopsikologis, faktor fungsional, yakni latar belakang kebutuhan, pengalaman masa lalu orang yang memberi respons terhadap stimuli. Menurut Rakhmat (2007:55-56), persepsi bersifat selektif secara fungsional, artinya objek-objek yang mendapat tekanan dalam persepsi biasanya adalah objek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi.

Robbins (2008:175), mengemukakan bahwa ketika seorang individu melihat sebuah target dan berusaha untuk menginterpretasikan apa yang ia lihat, interpretasi itu sangat dipengaruhi oleh berbagai karakteristik pribadi dari pembuat persepsi tersebut, seperti sikap, kepribadian, motif, minat, pengalaman-pengalaman masa lalu dan harapan-harapan seseorang. Selain itu karakteristik target yang diobservasi juga bisa mempengaruhi apa yang diartikan. Lebih jauh Robbins menjelaskan bahwa konteks dimana kita melihat berbagai objek atau peristiwa juga penting selain dari faktor yang dua di atas. Waktu sebuah objek atau peristiwa dilihat dapat mempengaruhi perhatian, seperti halnya lokasi, cahaya, panas, atau sejumlah faktor situasional lainnya.

Menurut Robbins (2008:176) secara implisit persepsi suatu individu terhadap suatu obyek sangat mungkin memiliki perbedaan dengan persepsi Individu lainnya terhadap obyek yang sama. Fenomena ini dikarenakan oleh beberapa faktor yang jika digambarkan tampak sebagai berikut:

Faktor dalam situasi:

-Waktu

-Keadaan/ Tempat

-Keadaan Sosial

Persepsi

Faktor pada Pemersepsi:

-Sikap

-Motif

-Kepentingan

-Pengalaman

-Pengharapan

Faktor pada Target:

-Hal Baru

-Gerakan

-Bunyi

-Ukuran

-Latar Belakang

-Kedekatan

Gambar 2.1. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

               Sumber: Robins:Perilaku Organisasi 2008.

2.1.3        Jenis-Jenis Persepsi

Proses pemahaman terhadap rangsang atau stimulus yang diperoleh oleh indera menyebabkan persepsi terbagi menjadi beberapa jenis :

1)      Persepsi visual.

Persepsi visual didapatkan dari indera penglihatan. Persepsi ini adalah persepsi yang paling awal berkembang pada bayi, dan mempengaruhi bayi dan balita untuk memahami dunianya. Persepsi visual merupakan topik utama dari bahasan persepsi secara umum, sekaligus persepsi yang biasanya paling sering dibicarakan dalam konteks sehari-hari.

2)      Persepsi auditori.

Persepsi auditori didapatkan dari indera pendengaran yaitu telinga.

3)      Persepsi perabaan.

Persepsi perabaan didapatkan dari indera taktil yaitu kulit.

4)      Persepsi penciuman.

Persepsi penciuman atau olfaktori didapatkan dari indera penciuman yaitu hidung.

5)      Persepsi pengecapan.

Persepsi pengecapan atau rasa didapatkan dari indera pengecapan yaitu lidah.

2.1.4    Pembedaan dengan Sensasi

Istilah persepsi sering dikacaukan dengan sensasi. Sensasi hanya berupa kesan sesaat, saat stimulus baru diterima otak dan belum diorganisasikan dengan stimulus lainnya dan ingatan-ingatan yang berhubungan dengan stimulus tersebut.

Sensasi adalah respons panca indera tiba-tiba dan langsung terhadap stimuli sederhana tertentu, seperti merek, kemasan, maupun iklan (Simamora,2002:103). Kepekaan bereaksi dipengaruhi oleh kualitas panca indera. Contohnya, orang buta tidak akan bereaksi terhadap gambar. Menurut Simamora (2002:103), Sensasi tergantung pada perubahan energi (energy change) atau diferensiasi input (differentiation of input). ”persepsi” Misalnya meja yang terasa kasar, yang berarti sebuah sensasi dari rabaan terhadap meja.

Sebaliknya persepsi memiliki contoh meja yang tidak enak dipakai menulis, saat otak mendapat stimulus rabaan meja yang kasar, penglihatan atas meja yang banyak coretan, dan kenangan di masa lalu saat memakai meja yang mirip lalu tulisan menjadi jelek.

2.1.5        Persepsi dalam Perspektif Gender

Gender adalah sebuah variabel sosial untuk menganalisa perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan, laki-laki dan perempuan dewasa berkaitan dengan peran, tanggungjawab dan kebutuhan, peluang dan hambatan (Haspels dan Suriyasarn, 2005). Gender merujuk pada pembedaan-pembedaan dan relasi-relasi sosial antara anak perempuan dan anak laki-laki, perempuan dan laki-laki dewasa yang dipelajari dan sangat bervariasi di dalam dan antar budaya, serta berubah dari waktu ke waktu (Haspels dan Suriyasarn, 2005).

Gender merupakan aspek identitas yang sangat berarti, perempuan dan pria mempunyai pengalaman yag berbeda tentang pembentukan identitas jenis kelamin. Identitas jenis kelamin terbentuk sekitar usia tiga tahun. Anak laki-laki dan perempuan mulai mengenal tingkah laku dan ciri-ciri kepribadian yaang sesuai bagi masing-masing jenis kelaminnya.

Perempuan dan pria mempunyai perbedaan secara psikologis dimana perempuan lebih emosional daripada pria karena perempuan lebih mudah tersinggung, mudah terpengaruh, sangat peka, menonjolkan perasaan, dan mudah meluapkan perasaan. Sementara pria tidak emosional, sangat objektif, tidak mudah terpengaruh, mudah memisahkan antara pikiran dan perasaan sehingga terkadang kurang peka dan mampu memendam perasaannya (Dagun, 1992: 4).

Goleman (1999: 116) menyatakan bahwa perempuan umumnya mempunyai kesempatan lebih banyak untuk mempraktekkan beberapa keterampilan relasional antar pribadi daripada pria, hal ini dikarenakan perempuan lebih peka dan cenderung mengalami penyesuaian perasaan yang spontan terhadap orang lain, sedangkan pria cenderung memandang diri sendiri, pria tampak kurang termotivasi dalam hal berempati dengan orang lain daripada perempuan.

Jati diri seorang pria ditentukan oleh kemampuannya. Pria akan membanggakan diri atas kemampuan memecahkan masalah atau menyelesaikan sebuah pekerjaan, sedangkan perempuan lebih mementingkan rasa kepedulian, integritas dan nilai-nilai yang lebih personal menduduki dan kepedulian untuk melayani (Gray, 2004: 30).

2.2       Fraud

2.2.1    Definisi Fraud

Fraud dalam bahasa Indonesia tidak hanya sempit diartikan sebagai kecurangan, dalam dunia keuangan fraud bisa berarti pencurian (pasal 362 KUHP), pemerasan dan pengancaman (pasal 368 KUHP), penggelapan (pasal 372 KUHP), perbuatan curang (pasal 378 KUHP), dan sebagainya.

Secara umum Webster’s New World Dictionary mendefinisikan kata fraud sebagai suatu pembohongan atau penipuan (deception) yang dilakukan demi keuntungan pribadi. Menurut Black’s Law Dictionary, fraud adalah berbagai sarana yang dapat direncanakan oleh manusia yang menggunakan kecerdasannya untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain dengan memberi saran yang menyesatkan atau menutupi kebenaran. fraud mencakup semua cara tak terduga, penuh siasat, licik, tersembunyi, serta setiap cara yang tidak jujur dimana ada pihak lainnya yang tertipu (menjadi korban).

Menurut Wells (2007: 3). “Fraud is criminal deception intended to financially benefit the deceiver. Lebih jauh fraud juga bisa berarti kebohongan, sengaja menceritakan hal yang tidak benar, mengambil keuntungan secara tidak adil atau tidak sah dari pihak lain.

International Standards of Auditing (ISAs) seksi 240–The Auditor’s Responsibility to Consider Fraud in an Audit of Financial Statements paragraf 6 mendefinisikan fraud sebagai:

 “…tindakan yang disengaja oleh anggota manajemen perusahaan, pihak yang berperan dalam governance perusahaan, karyawan, atau pihak ketiga yang melakukan pembohongan atau penipuan untuk memperoleh keuntungan yang tidak adil atau ilegal”.

Sedangkan dalam Standar Auditing yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia-Kompartemen Akuntan Publik (IAI-KAP) fraud diterjemahkan sebagai kecurangan. Dalam kaitannya dengan pelaporan keuangan, auditor berkepentingan untuk menguji apakah suatu tindakan yang mengandung fraud mengakibatkan salah saji (misstatement) dalam pelaporan keuangan.

Secara sederhana kata fraud, penipuan yang disengaja (intentional deception), kebohongan (lying), curang (cheating), dan pencurian (stealing) adalah kata-kata yang saling bersinonim meskipun pemahamannya bisa berbeda-beda tergantung konteks kasus yang terjadi. Penipuan yang disengaja bisa disebut fraud ketika seorang pegawai dengan sengaja me-mark-up pengadaan barang dan jasa dalam instansi pemerintah untuk kepentingan pribadinya. Kebohongan bisa disebut fraud ketika pegawai sengaja tidak melaporkan transaksi akuntansi yang terjadi demi mengeruk keuntungan. Kecurangan disebut fraud ketika pegawai sengaja memanipulasi laporan keuangan entitas agar laporan keuangan terlihat “indah”. Kecurangan ini biasa disebut fraudulent financial reporting atau kecurangan dalam pelaporan keuangan. Pencurian disebut fraud ketika seorang pegawai dengan sengaja mencuri kas atau persediaan perusahaan dengan berbagai cara kemudian memanipulasi dokumen-dokumen untuk menghilangkan bukti kejahatannya. Bentuk fraud ini lebih dikenal dengan missappropriation of assets atau penyalahgunaan aktiva. Kasus-kasus fraudulent financial reporting dan missappropriation of assets ini merupakan kasus fraud yang umum terjadi baik di entitas swasta maupun pemerintah.

Kata fraud, penipuan yang disengaja (intentional deception), kebohongan (lying), dan curang (cheating) memiliki antonim kejujuran (truth), keadilan (justice), kewajaran (fairness), dan kesamaan (equity). Fraud juga bisa berupa pemaksaan terhadap seseorang untuk berkelakuan melawan keinginannya. Misalnya, seorang pegawai yang terbiasa jujur, namun karena ada kesempatan dan kondisi ekonomi yang menghimpit maka pegawai tersebut melakukan fraud yang menguntungkan pribadinya.

Contoh fraud atas kas yang paling umum di dunia bisnis adalah lapping dan kitting. Secara sederhana lapping didefinisikan sebagai suatu cara penggelapan uang kas dengan cara mengundur-undur pencatatan penerimaan kas. Hal ini dapat dilakukan untuk waktu yang tidak terlalu lama, dan mungkin juga dapat dilakukan untuk waktu yang sangat lama.  Sedangkan kitting merupakan suatu jenis penyelewengan dengan cara tidak mencatat pembayaran tetapi mencatat penyetorannya dalam hal melakukan transfer bank. Disamping itu kitting juga dapat dilakukan dengan cara “window dressing”. Yang dimaksud dengan window dressing adalah yaitu bahwa keadaan posisi kas di bank dibuat lebih baik dari keadaan sebenarnya. Jadi keadaan kas yang sebenarnya tidak baik (kekurangan kas) dibuat menjadi lebih baik dengan menaikkan posisi atau nilai kas tersebut dari keadaan yang sebenarnya. Dengan demikian, akibat dari usaha penyelewengan tersebut maka penyediaan dan penggunaan kas pada perusahaan menjadi tidak efektif dan efisien.

SAS 82 (AU 316) membuat perbedaan antara dua jenis kesalahan penyajian, yaitu Kekeliruan (Error) dan Kecurangan (Fraud). Kedua jenis kesalahan penyajian ini dapat bersifat material maupun tidak material. Suatu kekeliruan (Error) adalah kesalahan penyajian atas laporan keuangan yang tidak disengaja, sementara Kecurangan (Fraud) merupakan kesalahan penyajian yang disengaja.

Itulah beberapa definisi fraud yang penulis kutip dari beberapa sumber referensi. Lalu, apa hubungannya fraud dengan istilah korupsi yang kita kenal sehari-hari? Ada ungkapan yang secara mudah ingin menjelaskan penyebab atau akar permasalahan dari fraud. Ungkapan itu adalah: fraud by need, by greed, and by opportunity. Kata fraud dalam ungkapan itu bisa diganti dengan corruption, financial crime dan lain-lain. Dari pembahasan tentang Fraud, kita tentu tahu bahwa ungkapan tersebut merupakan penyederhanaan dari dunia nyata.

2.2.2    Tipe-Tipe Fraud

Pada dasarnya terdapat dua tipe fraud, yaitu eksternal dan internal. Eksternal fraud adalah fraud yang dilakukan oleh pihak luar terhadap entitas. Misalnya, fraud eksternal mencakup : fraud yang dilakukan pelanggan terhadap usaha, wajib pajak terhadap pemerintah, atau pemegang polis terhadap perusahaan asuransi. Dan tipe Internal fraud adalah tindakan tidak legal dari karyawan, manajer, dan eksekutif terhadap perusahaan.

Ikatan Akuntan Indonesia (2001:316.2) menyatakan bahwa ada dua tipe salah saji yang relevan dengan pertimbangan auditor tentang fraud dalam audit atas laporan keuangan, yaitu salah saji yang timbul sebagai akibat dari fraud dalam pelaporan keuangan dan fraud yang timbul dari perlakuan tidak semestinya terhadap aktiva, berikut penjelasannya :

1)      Salah saji yang timbul dari fraud dalam pelaporan keuangan adalah salah saji atau penghilangan secara sengaja jumlah atau pengungkapan dalam laporan keuangan untuk mengelabui pemakai laporan keuangan. Fraud dalam laporan keuangan dapat menyangkut tindakan seperti yang disajikan berikut ini:

  1. Manipulasi, pemalsuan atau perubahan catatan akuntansi atau dokumen pendukungnya yang menjadi sumber data bagi penyajian laporan keuangan.
  2. Representasi yang salah dalam atau penghilangan dari laporan keuangan peristiwa, transaksi atau informasi yang signifikan.
  3. Salah penerapan secara sengaja prinsip akuntansi yang berkaitan dengan jumlah, klasifikasi, cara penyajian atau pengungkapan.

2)      Salah saji yang timbul dari perlakuan tidak semestinya terhadap aktiva (seringkali disebut dengan penyalahgunaan atau penggelapan), berkaitan dengan pencurian aktiva entitas yang berakibat laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum. Perlakuan tidak semestinya terhadap aktiva entitas dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk penggelapan tanda terima barang atau uang, pencurian aktiva, atau tindakan yang menyebabkan entitas membayar harga barang atau jasa yang tidak diterima oleh entitas. Perlakuan tidak semestinya terhadap aktiva dapat disertai dengan catatan atau dokumen palsu atau yang menyesatkan dan dapat menyangkut satu atau lebih individu di antara manajemen, karyawan atau pihak ketiga. 

2.2.3    Unsur-unsur Fraud

Unsur- unsur Fraud menurut Tunggal (2009: 4-5) dalam bukunya pokok-pokok audit kecurangan terdiri atas :

1)      motivasi, yaitu tekanan (pressure) yang dialami oleh seseorang yang tidak dapat berbagi kepada teman atau orang yang dapat dipercaya. Contohnya :

  1. membayar uang kuliah.
  2. membayar tagihan rumah sakit untuk orang tua yang menderita kanker.
  3. Membayar utang perjudian.
  4. Membayar obat keras.
  5. Membayar gaya hidup yang mewah (rumah, mobil, kapal pesiar)
  6. melindungi pekerjaan seseorang dengan memodifikasi laporan keuangan menjadi tampak lebih baik.

2)      Peluang (kesempatan atau opportunity) yaitu kesempatan memecahkan suatu masalah yang tidak dapat berbagi dengan melanggar kepercayaan. Contohnya:

  1. tidak ada orang yang menghitung persediaan, akibatnya kerugian tidak dapat diketahui.
  2. Kotak kas kecil sering ditinggalkan.
  3. Penyelia memberi contoh yang tidak baik dengan membawa suplay kantor ke rumah.
  4. Manajer keuangan memiliki otoritas investasi tanpa penelaahan atasannya.
  5. Kelebihan material yang ditaruh sembarangan.

3)      Rasionalisasi atau kekurangan integritas (Ratinalization or lack of integrity). Contohnya:

  1. saya membutuhkannya lebih besar daripada orang lain (teori Robin Hood).
  2. Saya meminjam uang tersebut dan akan saya kembalikan.
  3. Tidak ada orang lain yang dirugikan.
  4. Perusahaan cukup kuat untuk menalangi kecurangan tersebut.
  5. Setiap orang melakukannya
  6. saya terlalu murah dibayar (underpaid) dan ini adalah kompensasinya.

Ketiga unsur fraud tersebut diatas dapat digambarkan sebagai berikut:

Highest Risk

Motivasi

Peluang

Rasionalisasi

Gambar 2.2. Unsur-unsur Fraud

               Sumber : Tunggal, Ak, MBA : Pokok-pokok audit kecurangan 2009.

Lebih jauh Rozywidhiaz (2010: 2) menjelaskan bahwa unsur-unsur  Fraud biasanya mencangkup tiga langkah, yaitu :

1)      Tindakan ( the act ).

2)      Penyembunyian ( the concealment ).

3)      Konversi ( the conversion).

Tindakan Fraud biasanya adalah pencurian ( theft ). Contohnya pencurian dana kas kecil merupakan tindakan, memalsukan saldo dalam akun kas merupakan penyembunyian, korversi terjadi apabila pelaku mendepositokan dana tersebut ke dalam rekeningnya, atau melakukan pembelian uang kejahatannya.

2.2.4    Fraud Triangle

Tiga kondisi fraud yang berasal dari pelaporan keuangan yang curang dan penyalahgunaan aktiva diuraikan dalam SAS 99 (AU 316). Seperti yang diperlihatkan dalam gambar di bawah ini, Ketiga kondisi ini disebut sebagai segi tiga fraud atau fraud triangle.

1)      Insentif atauTekanan. Manajemen atau pegawai lain merasakan insentif atau tekanan untuk melakukan fraud.

2)      Kesempatan. Situasi yang membuka kesempatan bagi manajemen atau pegawai untuk melakukan fraud.

3)      Sikap /Rasionalisasi. Adalah sikap, karakter, atau serangkaian nilai-nilai etis yang membolehkan manajemen atau pegawai untuk melakukan tindakan yang tidak jujur, atau mereka berada dalam lingkungan yang cukup menekan yang membuat mereka merasionalisasi tindakan yang tidak jujur.

Sikap/Rasionalisasi

Kesempatan

Insentif/ tekanan

Gambar 2.3. Fraud Triangle

               Sumber : Tunggal, Ak, MBA : Pokok-pokok audit kecurangan 2009.

2.2.5    Perspektif dalam Fraud

Berikut adalah berbagai perspektif fraud menurut Bologna yang dikutip oleh Tunggal (2001:7),  yaitu:

1)      Fraud Perspektif Manusia.

Fraud bagi orang awam, adalah kecurangan yang direncanakan yang dilakukan pada orang lain untuk mendapatkan keuntungan pribadi, sosial, atau politik. Sebagai penyimpangan kemanusiaan, fraud adalah kelemahan manusia yang paling menyolok. Fraud adalah penyimpangan persepsi moral yang kita sebut kebenaran, keadilan hukum, keadilan dan kesamaan. Oleh sebab itu fraud adalah  perilaku yang tidak dapat diterima secara moral, maka kita membuat perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial dengan melawan hukum. Intinya fraud adalah pelanggaran kepercayaan diri, kepercayaan atau “fiduciary duty”.

2)      Fraud : Perspektif Sosial dan Ekonomi.

Fraud dianggap perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial karena fraud dapat menghancurkan hubungan manusia dan meracuni interaksi manusia: yaitu fraud dapat menghancurkan kepercayaan antar manusia. Tanpa kepercayaan, interaksi manusia tersendat dan hubungan manusia tidak dapat berkembang. Oleh sebab itu fraud dapat membahayakan dua kebutuhan manusia yang paling dasar: kebutuhan untuk kehidupan ekonomi dan kebutuhan untuk kehidupan sosial. Jadi kebenaran dan kejujuran adalah imbalan mereka. Tanpa kebenaran dan kejujuran kehidupan kita sebagai spesies dalam risiko.

3)      Fraud : Perspektif Hukum.

Fraud dalam arti hukum, adalah penggambaran kenyataan materi yang salah yang disengaja untuk tujuan membohongi orang lain sehingga orang lain mengalami kerugian ekonomi. Fraud dalam hukum kriminal disebut dengan banyak nama, misalnya penipuan dan kebohongan, pencurian dengan akal, kupon palsu, pura-pura, masukan yang salah, penggelapan, penggambaran yang salah dan menipu, pemalsuan, tiruan, kecurangan yang umum, penipuan kebangkrutan, penipuan pajak, berat dan ukuranyang palsu, periklanan yang palsu, penetapan harga, sumpah palsu, dan sebagainya.

Membuktikan fraud adalah masalah dokumentasi kejahatan keuangan pada korban dan tujuan jahat penipu. Bukti dapat terdiri dari pemasukan yang palsu dalam buku besar, atau catatan bisnis dan dokumen yang diubah, dipalsukan atau dihancurkan. Bukti kejahatan dapat juga terdiri dari buku, catatan dan dokumen dari pihak ketiga yang independen yang mendukung jumlah atau fakta kerugian.

4)      Fraud : Perspektif Akuntansi dan Audit.

Dari sudut pandang akuntansi dan audit, fraud adalah penggambaran yang salah dari fakta material dalam buku besar atau laporan keuangan. Pernyataan yang salah dapat ditujukan pada pihak luar organisasi seperti pemegang saham atau kreditor, atau pada organisasi itu sendiri dengan cara menutupi atau menyamarkan penggelapan uang, ketidakcakapan, penerapan dana yang salah atau pencurian atau penggunaan aktiva organisasi yang tidak tepat oleh petugas, pegawai dan agen.

Fraud dapat juga ditujukan pada organisasi pihak luar, misalnya, penjual, pemasok, kontraktor, konsultan dan pelanggan, dengan cara penagihan yang berlebihan, dua kali penagihan, substitusi material yang lebih rendah mutunya, pernyataan yang salah mengenai mutu dan nilai barang yang dibeli, atau besarnya kredit pelanggan. Audit fraud adalah disiplin yang dipergunakan untuk melihat, menemukan dan mendokumentasi kejadian – kejadian itu.

2.2.6    Klasifikasi Fraud

Fraud usaha atau internal dapat digolongkan berdasarkan cara fraud disembunyikan. Terdapat dua metode penyembunyian menurut Tunggal (2001:6), yaitu:

1)      On-book frauds (fraud dalam buku)

Pada dasarnya metode penyembunyian fraud dalam buku terjadi dalam usaha Pembayaran atau aktivitas gelap atau haram dicatat, biasanya dengan keadaan yang mengaburkan atau tidak kentara, dalam buku dan catatan regular perusahaan.

2)      Off-book frauds (fraud di luar buku)

Fraud di luar buku terjadi di luar aliran utama akuntansi. Biasanya, apabila fraud di luar buku terjadi, perusahaan umumnya mempunyai rabat pemasok yang tidak tercatat atau penjualan kas yang signifikan.

Karni (2000:35) mengklasifikasikan fraud menjadi tiga macam sebagai berikut:

1)      Management Fraud

Fraud ini dilakukan oleh orang dari kelas ekonomi yang lebih atas dan terhormat yang biasa disebut white collar crime, karena orang yang melakukan fraud biasanya memakai kemeja berwarna putih dengan kerah putih. Penyebutan istilah white collar crime sendiri diangkat oleh Edwin H. Sutherland yang memberikan batasan tentang white collar crime sebagai : a violation of criminal law by the person of the upper socio economic class in the course of his occupational activities (Pranasari dan Meliala, 1991:107).

2)      Non Management (Employee) Fraud

Fraud karyawan biasanya melibatkan karyawan bawahan. Fraud ini kadang-kadang merupakan pencurian atau manipulasi. Kesempatan melakukan fraud pada karyawan tingkat bawah relatif lebih kecil dibandingkan kecurangan pada manajemen. Hal ini dikarenakan mereka tidak mempunyai wewenang, sebab pada umumnya semakin tinggi wewenang semakin besar kesempatan untuk melakukan fraud.

3)      Computer Fraud

Kejahatan komputer dapat berupa pemanfaatan berbagai sumber daya komputer di luar peruntukan yang sah dan perusakan atau pencurian fisik atas sumber daya komputer itu sendiri. Termasuk juga defalcation atau embezzlement yang dilakukan dengan memanipulasi program komputer, file data, proses operasi, peralatan atau media lainnya yang mengakibatkan kerugian bagi organisasi yang mempergunakan sistem komputer tersebut.

2.2.7    Penyebab Fraud

Gandhi mengatakan bahwa berbagai kelemahan dalam prosedur dan tata kerja, salah satunya adalah kelemahan petugas serta pengawasan, yang kerap dimanfaatkan oleh para pelaku kejahatan ekonomi (Pranasari dan Meliala, 1991:3). Sistem pengendalian intern yang lemah memang memudahkan terjadinya fraud, akan tetapi sistem pengendalian yang kuat juga tidak menjamin bahwa fraud tidak terjadi. Sistem pengendalian intern tidak dimaksudkan untuk meniadakan semua kemungkinan terjadinya kesalahan atau penyelewengan, akan tetapi sistem pengendalian intern yang baik akan dapat menekan terjadinya kesalahan dan penyelewengan dalam batas-batas biaya yang layak dan kalaupun kesalahan dan penyelewengan terjadi hal ini dapat diketahui dan diatasi dengan cepat.

Penyebab-penyebab terjadinya fraud menurut Tunggal (2003:304) mengutip dari Venables dan Impey digolongkan menjadi penyebab utama dan penyebab sekunder, sebagai berikut :

1)      Penyebab utama

  1. Penyembunyian (concealment)

Kesempatan tidak terdeteksi. Pelaku perlu menilai kemungkinan dari deteksi dan hukuman sebagai akibatnya.

  1. Kesempatan/Peluang (opportunity)

Pelaku perlu berada pada tempat yang tepat, waktu yang tepat agar dapat mendapatkan keuntungan atas kelemahan khusus dalam sistem dan juga menghindari deteksi.

  1. Motivasi (motivation)

Pelaku membutuhkan motivasi untuk melakukan aktivitas demikian, suatu kebutuhan pribadi seperti ketamakan atau kelobaan atau kerakusan dan motivator yang lain.

  1. Daya tarik (attraction)

Sasaran dari fraud perlu menarik bagi pelaku.

  1.  Keberhasilan (success)

Pelaku perlu menilai peluang berhasil, yang dapat diukur dengan baik untuk menghindari penuntutan atau deteksi.

2)      Penyebab sekunder

  1. A Perk

Akibat kurangnya pengendalian, mengambil keuntungan aktiva organisasi dipertimbangan sebagai suatu tunjangan karyawan.

  1. Hubungan antar pemberi kerja dan pekerja yang jelek

Rasa saling percaya dan menghargai antar pemberi kerja dan pekerja telah gagal.

  1. Pembalasan dendam (revenge)

Ketidaksukaan terhadap organisasi mengakibatkan pelaku berusaha merugikan organisasi tersebut.

  1. Tantangan (challenge)

Karyawan yang bosan dengan lingkungan kerjanya berusaha mencari stimulus dengan ‘memukul sistem’, yang dirasakan sebagai suatu pencapaian atau pembebasan dari rasa frustasi.

Sidharta mengungkapkan bahwa salah satu hal yang menyuburkan praktek fraud adalah ketergila-gilaan manusia terhadap uang. Uang mempunyai nilai tersendiri dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak ada seorangpun yang tidak butuh uang. Seyogianya oranglah yang menguasai uang, akan tetapi pada suatu saat dan tingkat tertentu orang dapat diperbudak oleh uang, sehingga uang beralih menguasai manusia. Dalam keadaan seperti itu, uang dapat mempengaruhi etika dan moral (Pranasari dan Meliala, 1991:109). Menurut Tunggal (2001:10) fraud paling sering terjadi apabila didukung oleh kondisi-kondisi sebagai berikut :

1)      Pengendalian intern tidak ada, lemah atau dilakukan dengan longgar.

2)      Pegawai diperkerjakan tanpa memikirkan kejujuran dan integritas mereka.

3)      Pegawai diatur, dieksploitasi dengan tidak baik, disalahgunakan atau ditempatkan dengan tekanan yang besar untuk mencapai sasaran dan tujuan keuangan.

4)      Model manajemen sendiri korupsi, tidak efisien atau tidak cakap.

5)      Pegawai yang dipercaya memiliki masalah pribadi yang tidak dapat dipecahkan.

6)      Industri dimana perusahaan menjadi bagiannya, memiliki sejarah atau tradisi korupsi.

7)      Perusahaan mengalami masa yang buruk.

Dari rangkaian penjelasan diatas penulis bermaksud ingin menguji wawasan peserta didik khususnya mahasiswa yang berkompeten dimana penulis menimba ilmu pengetahuan yaitu Mahasiswa Jurusan Akuntansi Universitas Hasanuddin guna melihat lebih jauh persepsi mahasiswa terhadap praktik-praktik Fraud dan apa alasan yang memdasari persepsi mahasiswa tersebut terhadap praktik-praktik  fraud.

2.3       Penelitian-Penelitian yang Relevan

Beberapa penulis sebelumnya menegaskan terkait dengan persepsi terhadap fraud diantaranya :

 Penelitian yang dilakukan oleh Siboro (2006) yang menguji perbedaan persepsi antara auditor yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik yang berafiliasi dan non-afiliasi terhadap efektifitas metode-metode pendeteksian dan pencegahan fraud dimana penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dengan menyebarkan kuisioner kepada responden yang terpilih. Kriteria responden adalah bekerja pada kantor akuntan berafiliasi dan non-afiliasi yang berada di DKI Jakarta. Penelitian ini tidak berhasil membuktikan bahwa terdapat perbedaan persepsi antara auditor yang bekerja pada kantor akuntan publik yang berafiliasi dan nonafiliasi terhadap efektivitas metode-metode pendeteksian dan pencegahan fraud. Dalam pengujian lebih lanjut, penelitian ini juga tidak berhasil membuktikan bahwa persepsi auditor terhadap efektivitas metode-metode pendeteksian dan pencegahan fraud dipengaruhi oleh jenis perusahaan yang pernah diaudit, jenis fraud yang ditemukan, frekuensi menemukan fraud, pihak yang melakukan fraud, pihak yang memperoleh manfaat dari fraud, lama kerja sebagai auditor, lama kerja di KAP dan jabatan auditor.

Wahyudi dan sopanah (2009) dalam penelitiannya tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi korupsi anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) di Malang Raya, Dimana dalam penelitiannya tersebut menggunakan empat aspek pengaruh yaitu: Prilaku individu,Organisasi Kepemerintahan, Peraturan Perundang-undangan dan aspek pengawasan. penelitian tersebut menguji faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya korupsi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) khusunya di Malang Raya. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pertama, aspek prilaku individu tidak berpengaruh signifikan terhadap terjadinya korupsi APBD. Kedua,  aspek organisasi kepemerintahan merupakan faktor yang berpengaruh signifikan terhadap terjadinya korupsi APBD. Hubungan yang di tunjukkan adalah negatif artinya semakin baik organisasi kepemerintahan maka semakin rendah korupsi APBD yang terjadi. Ketiga, aspek peraturan perundang-undangan merupakan faktor yang berpengaruh signifikan terhadap terjadinya korupsi APBD. Hubungan yang di tunjukkan adalah negatif artinya semakin berkualitas peraturan perundang-undangannya maka semakin rendah korupsi APBD yang terjadi. Keempat, aspek pengawasan merupakan faktor yang berpengaruh signifikan terhadap terjadinya korupsi APBD. Hubungan yang di tunjukkan adalah negatif artinya semakin tinggi tingkat pengawasan yang dilakukan maka semakin rendah korupsi APBD yang terjadi. Sementara hasil analisis secara simultan mendukung hasil analisis secara partial, artinya secara bersama-sama faktor individu prilaku, organisasi kepemerintahan, peraturan perundang-undangan, dan pengawasan secara signifikan mempengaruhi terjadinya korupsi APBD.

Selain itu Shleifer dan Vishny (1993) dalam tulisannya memaparkan dua proposisi mengenai fraud. Proposisi pertama, struktur kelembagaan pemerintah dan proses politik adalah sangat penting dalam menentukan tingkat fraud. Khususnya pemerintahan yang lemah yang tidak mengontrol badan-badannya mengalami tingkat fraud yang sangat tinggi. Proposisi kedua, ilegalnya korupsi dan kebutuhan akan kerahasiaan membuatnya makin menyimpang dan mahal dibanding pajak. Hasilnya dapat dijelaskan mengapa di beberapa negara berkembang fraud sangatlah tinggi intensitasnya, dan sangat mahal dalam membebani pembangunan.

Johnston (1999) mengatakan bahwa fraud cenderung  menyertai perubahan ekonomi dan politik yang cepat. Definisi fraud  pada umumnya sebagai salah satu penyalahgunaan  peranan atau sumber daya publik atau menggunakan bentuk-bentuk pengaruh politik secara tidak sah oleh pihak publik atau swasta.

2.4       Kerangka Pikir

Dari tiga faktor-faktor yang mempengaruh persepsi seperti faktor pada pemersepsi, faktor dalam situasi, dan faktor pada terget yang dipersepsi yang dijadikan kerangka pemikiran dimana fraud sebagai objek yang dipersepsi dari empat sudut pandang (Perspektif) dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.4 Kerangka Pikir

12 thoughts on “BAB II LANDASAN TEORI – PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP FRAUD (Studi Empiris Pada Mahasiswa Akuntansi Universitas Hasanuddin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s