BAB I PENDAHULUAN – PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP FRAUD (Studi Empiris Pada Mahasiswa Akuntansi Universitas Hasanuddin)

Daftar Isi >> Abstrak >> Bab I Pendahuluan >> Bab II Landasan Teori >> Bab III Metoda Penelitian >> Bab IV Tinjauan Umum Objek Penelitian >> Bab V Pembahasan >> Bab VI Penutup >> Lampiran Kuisioner

BAB I

PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang

Manusia sebagai mahluk hidup dan mahluk sosial tentunya memiliki beberapa kebutuhan yang harus dipenuhi. Robins (2008:224) mengutip Abraham Maslow  dalam teorinya mendefinisikan kebutuhan manusia menjadi lima. Pertama, kebutuhan psikologis manusia, yaitu kebutuhan akan makanan, minuman, tempat berlindung (rumah), dan pertolongan dari kesulitan. Kedua, kebutuhan akan keamanan yaitu kebutuhan manusia akan  kebebasan dari ancaman atau keamanan atas kejadian atau lingkungan yang mengancam. Ketiga, kebutuhan akan rasa memiliki, secara sosial, dan kasih sayang yang meliputi kebutuhan akan persahabatan, persatuan dan interaksi secara sosial. Keempat, kebutuhan manusia akan penghargaan baik terhadap diri sendiri maupun dari orang lain. Yang kelima, kebutuhan akan penunjukan diri yang sebenarnya yaitu kebutuhan manusia untuk memenuhi diri sendiri dengan memaksimalkan penggunaan dari kemampuan, keahlian dan potensi diri.

Beragam kebutuhan diatas merupakan motivasi bagi seseorang untuk melakukan suatu tindakan nyata agar kebutuhannya dapat terpenuhi. Sayangnya, tidak semua orang dapat memenuhi kebutuhannya dengan cara yang dibenarkan. Adanya hambatan-hambatan seperti perbedaan kepentingan, tekanan dari lingkungan keluarga maupun dari lingkungan kerja, gaji yang rendah dan sedikitnya penghargaan yang diterima, memotivasi seseorang untuk mengambil jalan pintas dengan melakukan  tindakan fraud.

Fraud merupakan bentuk dari ketidakjujuran manusia. Namun, melakukan fraud kadang menjadi suatu pilihan bagi sebagian orang yang berada dalam kondisi terdesak oleh besarnya hambatan yang harus dihadapi. situasi seperti ini dapat saja terjadi di lingkungan kita khususnya ketika terdapat sebagian orang yang merasa bahwa kejujuran itu bersifat situasional. Hal ini sejalan dengan pernyataan Wells (2007) yang mengemukakan bahwa there is no such thing as a person who is completely honest (or dishonest, for the matter) in all situations; it depends on what is at stake – a scrupulously honest individual is likely to lie to avoid execution. Bahkan adapula yang mengangap bahwa fraud itu sebagai suatu kebutuhan.

Di indonesia,  beragam fraud sering kita temukan, lebih dikenal dengan istilah korupsi. Berbagai kasus korupsi di Indonesia salah satunya adalah seperti yang dilaporkan oleh Indonesian Corruption Watch (ICW) bahwa terdapat kasus penggelapan pajak di Indonesia yang dilakukan oleh suatu perusahaan dengan memberi uang  suap kepada aparat pajak.Beberapa aparat legislatif yang juga merupakan pengusaha besar dan memiliki perusahaan-perusahaan besar di Indonesia terkena kasus skandal penunggakan pajak, Beberapa politisi menjadikan power force (kekuasaan) untuk menekan aparat pajak melakukan penagihan terhadap mereka. Selain itu, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesaia juga menemukan adanya penyelewengan atas penerimaan negara yang seharusnya disetor ke kas negara tetapi justru masuk ke rekening negara atas nama pribadi. Kasus fraud lain yang dapat ditemukan di Indonesia adalah manipulasi pembukuan. Tuanakotta (2007) menunjukkan bahwa pada tahun 1998 terdapat enam bank Indonesia yang melakukan overstatement disisi asset dan understatement disisi liabilities. Selain itu, Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani (Koran Kompas,2006) juga pernah menyatakan bahwa banyak perusahaan yang telah membuat laporan keuangan yang berbeda atau laporan keuangan ganda (double Bookkeeping) untuk bank, BAPEPAM, maupun Kantor Pajak.

Maraknya kasus korupsi atau praktik-praktik fraud tersebut tentu saja menarik perhatian yang besar dari penulis. Penulis sebagai mahasiswa dan salah satu elemen masyarakat merasa bahwa para mahasiswa seharusnya peka dan tidak boleh menutup mata terhadap permasalahan ini. Kita seharusnya tidak hanya mengetahui tetapi juga memahami tentang fraud dan isu-isu atau permasalahan mengenai hal tersebut. Pemahaman dan tingkat kepekaan mengenai hal ini tentu saja dapat mempengaruhi persepsi mahasiswa mengenai praktik-praktik fraud. Persepsi mahasiswa terhadap fraud ini menjadi hal penting untuk dapat membantu dalam pemberantasan kasus-kasus fraud yang terjadi disekitar kita. Seandainya saja, seluruh elemen masyarakat termasuk mahasiswa memiliki persepsi yang sama bahwa fraud merupakan hal yang tidak dapat dibenarkan dan mereka peduli akan hal ini maka berbagai kasus fraud di sekitar kita akan lebih mudah terungkap dan ditindaklanjuti atau diberantas.

Jurusan Akuntansi Universitas Hasanuddin yang merupakan tempat dimana penulis menimba ilmu pengetahuan juga memegang peranan penting dalam pembentukan persepsi mahasiswa. Tempat ini dapat menjadi media untuk penyampaian informasi dan pembelajaran mengenai isu-isu dan hal yang terkait dengan fraud bagi para mahasiswa. Jika para mahasiswa mendapatkan pengetahuan dan pemahaman yang cukup mengenai fraud selama dibangku kuliah maka seharusnya mereka akan memiliki suatu persepsi yang sama terhadap hal tersebut yaitu bahwa fraud merupakan hal yang tidak dapat dibenarkan. Akan tetapi, tingkat pemahaman dan kepekaan mahasiswa dapat berbeda antara satu dengan yang lainnya disebabkan oleh faktor-faktor dalam diri mahasiswa itu sendiri. Akibatnya, persepsi mahasiswa terhadap fraud bisa saja berbeda satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, penelitian ini diberi judul:  “Persepsi Mahasiswa Terhadap Fraud ( Studi Empiris pada Mahasiswa Akuntansi Universitas Hasanuddin)”.

1.2              Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka permasalahan yang akan dikemukakan pada penelitian ini adalah:

Bagaimanakah Persepsi Mahasiswa Akuntansi Universitas Hasanuddin terhadap Fraud ?

1.3       Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1.3.1        Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana persepsi mahasiswa Akuntansi Universitas Hasanuddin terhadap Fraud.

1.3.2        Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1)      Bagi Penulis, untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis, terutama yang terkait dengan masalah dalam penelitian ini.

2)      Bagi Penulis Selanjutnya, sebagai bahan bacaan atau literatur tambahan bagi penulis- penulis selanjutnya yang tertarik terhadap bidang kajian ini.

Bagi Institusi Terkait, sebagai bahan masukan bagi institusi terkait tentang pentingnya pemahaman mahasiswa terhadap masalah dalam penelitian ini.

7 thoughts on “BAB I PENDAHULUAN – PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP FRAUD (Studi Empiris Pada Mahasiswa Akuntansi Universitas Hasanuddin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s